Selamat Datang di Catatan Liar : theOne :-)

Kamis, 18 November 2010

Penjual Bakso vs Penjual Es

             Ada sebuah fenomena yang sebenarnya populer dalam kehidupan kita atau sering terjadi di sekitar kita. Ilustrasi fenomenanya begini. Ada dua orang ayah yang berprofesi sebagai [pertama], tukang bakso dan [kedua] penjual es. Masing-masing ayah ini mempunyai anak yang berumur lebih kurang Sepuluh tahun. Ya kira-kira kelas 3 atau kelas 4 SD. 
            Sebagai seorang ayah, orangtua tsb selalu menitipkan pesan kepada anaknya tiap kali anaknya berangkat sekolah. Selain pesan yang populer “belajar yang rajin ya” dan “jangan melawan sama guru” sang ayah juga menitipkan uang sebagai uang jajan. Sambil memberikan uang tsb sang ayah bilang : Nak, Nanti kalau pas jam istirahat, jangan jajan bakso yang bapak jual nanti ya.” Kata ayah penjual bakso itu. (kebetulan si ayah, berjualan di komplek di mana anaknya bersekolah).  
            Si anak mengernyitkan dahi tanda tak paham. Ia sedikit heran dan balik bertanya: “bukankah nanti kalau saya jajan di warung ayah, baksonya gratis. Kan anak sendiri, yah. Terus, uang jajan yang ini bisa saya tabung?. Dengan jujur si ayah bilang : ”nak, bakso yang ayah jual ini, menggunakan bahan pengawet dan penyedap yang luar biasa banyak. Sehingga bakso ini bisa laris. Dan kalau seandainya masih tersisa, ia tidak perlu dibuang. Karena masih bisa digunakan untuk esok hari.” Jelas sang ayah dengan panjang x lebar x  tinggi = si anak manggut-manggut. 
            Sambil menyalami dan meng-iyakan apa yang menjadi pesan sang ayah, si anak pun berangkat bersama temen-temen yang lain. Dan mengikuti pelajaran seperti biasanya di bawah bimbingan sang guru yang cerdas dan baik hati. 
            Nah, ternyata apa yang menjadi fenomena si anak bapak yang jualan bakso itu, juga terjadi dengan si anak bapak yang jualan es tsb. Sebelum berangkat sekolah, sang ayah juga menitipkan pesan kepada anaknya, “nanti atau kapan pun, jangan di makan es yang bapak jual ini ya. Karena es yang bapak jual ini menggunakan zat pewarna dan pemanis yang berlebihan. Sehingga terlihat begitu menggoda. Ya, biar tambah laris.” Jelasnya dengan panjang lebar. 
            Setelah mendengar penjelasan itu, si anak pun berangkat sekolah, belajar dengan seksama bersama guru yang juga cerdas dan baik hati. 
           Nah, tiba pada saat jam istirahat, anak dari masing-masing bapak ini bermain dengan teman-teman sebaya. Dan  sudah menjadi kelumrahan, usai bermain, anak-anak ini pun jajan. Karena masih mengingat pesan sang ayah masing-masing ketika mau berangkat sekolah tadi, maka si anak pun menaatinya. Tidak jajan di tempat ayah masing-masing. 
            Namun, apa yang terjadi. Si anak dari bapak yang jualan bakso, jajan di tempat bapak yang jualan es dan si anak dari yang jualan es, jajan di tempat bapak yang jualan bakso. Nah, walaupun masing-masing orangtuanya merasa aman, karena anaknya tidak jajan di tempatnya sendiri, ternyata kedua anak tersebut telah memakan makanan yang sama-sama berpengawet secara berlebihan. Artinya makanannya sama-sama tidak steril. Dan pada akhirnya, masing-masing jatuh sakit. 
            Setelah diusut oleh masing-masing orang tuanya, barulah ketahuan bahwa orang tuanya telah melakukan sikap atau tindakan negatif terhadap orang lain. Atau lebih tepatnya telah melakukan tindak kejahatan yang tersembunyi untuk orang lain. Yang kemudian sama-sama beresiko terhadap anggota keluarganya sendiri. 
             Nah, cerita atau ilustrasi fenomena ini hanyalah fiktif belaka. Akan tetapi, setidaknya ada pesan moral yang terkandung di dalamnya yang bisa kita petik. Yaitu “Sikap negatif yang [tersembunyi sekalipun] akan menimbulkan negatif yang sama.” Oleh karena itu, mari sama-sama menjaga sikap agar tetap di garis yang benar. Tidak ada tipu menipu. Tidak ada kecek mengecek. Luruskanlah niat. Semoga kita menjadi insan yang bisa berbagi dalam kebaikan. Kemudian mari kita rasakan dan kita nikmati hidup dan kehidupan ini penuh dengan kedamaian, sejahtera dan bernilai. Karena sikap positif akan kembali kepada kita dalam bingkai yang positif juga.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons